"Ya Allah, berkenanlah Engkau membuat baik agamaku yang merupakan pemelihara urusanku, berkenanlah Engkau membuat baik duniaku yang aku hidup di dalamnya, berkenanlah Engkau membaikkan akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Berkenanlah Engkau menjadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan menjadikan mati sebagai istirahat bagiku dari setiap kejahatan." (HR. Muslim)

Sabtu, 17 April 2010

Mysterious Guest


Suatu ketika saat aku kembali ke rumah dari rumah orang tuaku, aku melihat ada tiga orang pria yang tak ku kenal sedang berdiri di halaman depan rumah ku.

Kutatap wajah mereka satu per satu, meskipun aku tak mengenali mereka tapi tampak dari wajah mereka bahwa mereka bertiga adalah orang baik. Kuhampiri mereka dan kutanyakan keperluan mereka. Salah seorang diantara mereka menjawab, "Kami datang hanya untuk menemui suami mu".

Setelah mendengar jawaban mereka, lalu kupersilahkan mereka masuk. "Udara di luar dingin, mari masuk ke dalam rumah ku, akan ku hidangkan segelas teh hangat dan kue-kue".

Salah satu diantara mereka bertanya, "Apakah suami mu ada di rumah ?

"Tidak, suami ku saat ini masih berada di kantor."

"Baiklah, kalau begitu biar kami menunggu di luar", kata pria tadi.

Saat matahari telah terbenam dan digantikan oleh cahaya rembulan, suami ku baru saja pulang dari kantor. Kusambut ia dengan senyuman hangat, kutatap anak-anak berlarian ke pelukan ayahnya. Setelah puas melepas rindu dengan sang ayah, lalu anak-anak kembali bermain. Kupersilahkan suami ku duduk.

"Diminum kopinya mas, mumpung masih hangat."

"Terima kasih, de'."

"Bagaimana pekerjaan mu di kantor hari ini mas?"

"Hari ini cukup banyak kegiatan ku de'. Penat dan lelah yang kurasakan setelah seharian bekerja. Tapi begitu aku sampai di rumah ini, dan saat aku melihat senyuman hangatmu dan tawa anak-anak yang telah menanti dan menyambut kepulanganku, seketika itu juga segala penat yang kurasa sirna. Kalian merupakan sumber kekuatan bagi ku."

"Alhamdulillah mas. Dede senang mendengarnya. Owya mas, apakah tadi mas berjumpa dengan tiga orang pria yang sedang berdiri di halaman depan rumah kita?"

"Tidak. Kenapa de'?"

"Sejak siang tadi ada tiga orang pria yang menunggu mu di halaman rumah. Saat aku persilahkan mereka masuk, mereka tidak mau. Mereka berkata mereka akan masuk saat mas sudah tiba di rumah."

"Siapa mereka de'?"

"Dede gak kenal mas."

Suamiku tampak kebingungan, lalu ia berkata, "Persilahkan mereka masuk de', sampaikan kepada mereka bahwa mas telah ada di rumah. Mintalah mereka menunggu mas sebentar lagi."

"Baik mas, tapi apa ndak sebaiknya mas menemui mereka terlebih dahulu? Sejak siang mereka sudah menanti kehadiran mas lho."

"Mas ingin mandi terlebih dahulu de', lalu menemui mereka. Karena itu, mintalah mereka menunggu sebentar lagi dan jangan lupa de' undang mereka pula untuk makan malam bersama kita."

"Baik mas."

Lalu aku bergegas keluar untuk menemui tiga orang pria tersebut dan menyampaikan seluruh pesan suami ku. Kupersilahkan mereka untuk masuk dan mengundang mereka pula untuk makan bersama keluarga ku.

"Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama" , kata ketiga pria tersebut hampir bersamaan.

"Kenapa Pak?" tanyaku dengan keheranan.

Salah seorang pria maju dan berinisiatif untuk menjelaskannya, "Sebelum menjawab pertanyaan anda, saya akan memperkenalkan siapa kami terlebih dahulu. Pria berbaju hijau tersebut bernama KekayaaN, sedangkan pria yang berbaju kuning itu bernama KesuksesaN. Sedangkan saya sendiri bernama Kasih-Sayang."

"Karena kami tidak bisa masuk secara bersamaan, maka tanyakan kepada suami mu, siapakah diantara kami bertiga yang ia perbolehkan masuk." kata pria berbaju kuning.

Aku masuk ke dalam rumah, dan menanti suami ku hingga ia selesai mandi sambil menata meja makan.

"De' kemana tiga orang pria yang kamu ceritakan tadi? Mengapa belum dede persilahkan masuk?"

"Pesan mas sudah dede sampaikan. Akan tetapi mereka tak dapat masuk secara bersamaan. Mereka meminta dede' untuk menanyakan siapa kah yang mas pilih untuk masuk ke dalam rumah kita ini."

"Mas tidak tahu siapa mereka, bagaimana mungkin mas tahu siapa yang lebih berhak untuk masuk ke dalam rumah kita ini."

"Mereka adalah Kesuksesan, Kekayaan dan Kasih-Sayang. Dari ketiganya manakah yang mas undang untuk makan malam bersama kita?"

"Hmmm... cukup menarik. Kalau begitu, undanglah KekayaaN bergabung bersama kita. Mas ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."

"Mas ku sayang, kenapa kita tidak mengundang si Kesuksesan saja? Dede pikir kita perlu dia untuk membantu keberhasilan pekerjaan kita."

Anak-anak yang mendengarkan percakapan kami, memohon agar mereka dapat mengusulkan siapakah yang akan diundang untuk makan malam bersama. Akhirnya kami mempersilahkan mereka berbicara. "Ayah, bunda mengapa tidak kita persilahkan Kasih-Sayang untuk makan bersama kita. Bukankah rumah kita akan terasa lebih nyaman, dan penuh kehangatan apabila Kasih-Sayang menyelimuti rumah ini. Kebahagian kita pasti akan bertambah berlipat-lipat."

Aku dan suami ku berpandangan. Dan kami sepakat dengan pilihan buah hati kami tercinta.

"Baiklah de', kalau begitu undanglah Kasih-Sayang masuk ke rumah kita."

Aku segera ke luar. Kuhampiri pria berbaju putih itu. "Tuan Kasih-Sayang, malam ini kau adalah tamu kami. Kami sekeluarga mengundang mu untuk makan malam bersama."

Pria berbaju putih itu pun terseyum padaku dan ia berjalan menuju ruang tamu. Disusul oleh pria berbaju kuning dan hijau yang mengiringinya.

Aku heran melihatnya, karena itu ku beranikan diri untuk menghentikan langkah Kekayaan dan Kesuksesan dan bertanya kepada mereka berdua, "Maaf kalian berkata hanya satu diantara kalian bertiga yang dapat masuk ke dalam rumah kami, oleh karena itu, kami sekeluarga memutuskan untuk mengundang Kasih-Sayang untuk masuk ke dalam rumah kami. Tapi mengapa kalian berdua ingin ikut masuk juga?"

Kekayaan dan Kesuksesan hanya membalas keheranan ku dengan senyuman. Lalu secara bersamaan mereka menjawab pertanyaan ku, "Seandainya suami anda mengundang salah satu diantara kami berdua, maka yang lainnya akan tetap tinggal di luar. Akan tetapi karena suami anda memutuskan untuk mengundang Kasih-Sayang, maka kami pun akan senantiasa mengiringi kemanapun Kasih-Sayang pergi."

"Tapi mengapa?" tanyaku masih dalam keheranan.

Mereka berdua menatapku dan tertawa, lalu mereka berkata, "Ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini adalah buta, dan hanya Kasih-sayang lah yang dapat melihat. Karena itu hanya Kasih-Sayanglah yang mampu mengantarkan kita pada jalan kebaikan, jalan yang lurus dan benar. Kami sangat bergantung pada Kasih-Sayang dan sangat membutuhkan bimbingannya saat menjalani kehidupan ini Karena itulah dimana ada Kasih-Sayang maka Kekayaan dan Kesuksesan akan ikut serta mengiringinya."

Aku tersenyum mendengar penjelasan mereka. "Terima kasih kalian bertiga berkenan masuk ke dalam rumah kami. Silahkan masuk dan tinggallah lebih lama, kami sekeluarga sangat bahagia memiliki kesempatan untuk menjamu kalian bertiga."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar